problematika pendidikan nasional


Generasi muda zaman sekarang ini banyak yang terang-terangan memberontak terhadap metode-metode dan lembaga-lembaga pendidikan lama itu. Dan tidak selalu mudah untuk dapat menentukan dengan tepat berapa besar bagian kegelisahan umum dan ledakan semangat berontak di kalangan generasi muda itu harus dipandang sebagai yang disebabkan oleh alasan tersebut.

Menurut Edgar Faure bahwa sudah menjadi kegelisahan berabad-abad lamanya, bahwa pendidikan dengan amat mudah diperalat untuk melayani kepentingan masyarakat semata-mata. Maksudnya, dalam pendidikan anak didik ditempa secara tidak seimbang, sehingga kelak mereka lebih makin tersedia sebagai “alat yang berguna” bagi masyarakat. Memang keliru jika pendidikan tidak berguna sama sekali bagi kepentingan masyarakat. Tapi sangatlah keliru jika pendidikan memutlakkan kepentingan masyarakat tersebut, sebab tujuan pendidikan bukanlah pertama-tama melayani masyarakat, melainkan membantu kelahiran manusia-manusia dewasa dan matang.

Kegelisahan ini merupakan imbas dari pergeseran dalam cara memandang (paradigma) pendidikan. Pergeseran ini setidaknya dapat ditelusuri jauh ketika dimulainya revolusi industri yang merupakan benih-benih dari Renaissance yang melanda Eropa setelah melewati periode gelap abad pertengahan. Masyarakat yang tadinya hidup dalam pola kultur agraris beralih menjadi masyarakat industri seiring dengan semakin vitalnya penguasaan modal. Semua kegiatan dan hasil produksi dianggap memiliki nilai ekonomis tinggi jika itu menyangkut kegiatan produksi yang dihasilkan industri (pabrik). Maka dimulailah era kehidupan kapitalisme menggantikan era kehidupan feodalisme. Sistem yang kapitalistik telah merasuk begitu jauh hingga nyaris tidak ada celah kehidupan manusia yang luput darinya.

Dalam pendidikan pun demikian. Ilmu pengetahuan yang sejalan dengan tujuan di atas diberi prioritas. Disiplin keilmuan yang dianggap terpandang hanyalah disiplin ilmu yang sifatnya teknis terapan sebagai penunjang produksi industri. Implikasinya, terjadilah dikotomi dan sekat keilmuan yang tajam. Ilmu-ilmu positif (eksak) menempati posisi superior dibanding dengan ilmu-ilmu lainnya. Siswa hanya dianggap memiliki nilai lebih jika siswa tersebut mampu menguasasi ilmu-ilmu pasti. Orang hanya berlomba-lomba memasuki disiplin ilmu yang alasannya masa depan lebih menjanjikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Kita belajar di institusi-institusi pendidikan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang berjalan dalam kerangka logika kapitalisme yakni menghasilkan tenaga pekerja yang mendatangkan nilai ekonomis. Kita kemudian tidak ubahnya seperti robot-robot yang diformat sedemikian rupa tanpa sempat melakukan renungan atau refleksi atas tujuan hidup (eksistensi) kita yang sebenarnya. Kita mungkin sudah lupa atau pura-pura lupa bahwa tujuan pendidikan yang sebenarnya adalah untuk menghasilkan generasi yang dewasa, mandiri dan berkepribadian, yang menjunjung moral dan etika yang kelak dengan bebas dan sadar dapat membantu masyarakat.

Dalam pendidikan, aspek individual dan personal itu tidak boleh dikorbankan. Kendati demikian, tidaklah berarti bahwa pendidikan boleh membiarkan aspek itu berkembang bebas tanpa ukuran. Karena itu, pendidikan perlu mencegah, jangan sampai kebebasan menjadi kesemauan dan keseenakan sendiri. Janganlah pula kemandirian terbelokkan menjadi egoisme, atau rasa keadilan terjungkir menjadi pembenaran keadilan pribadi. Pula, anak didik perlu dibantu untuk mencintai keteraturan, maksudnya, jangan sampai mereka membenci untuk keteraturan hanya semata-mata karena mereka merasa dipaksa untuk taat pada keteraturan. Dan janganlah pendidikan hanya memberikan peluang agar anak didiknya nanti lebih mampu bersaing dari pada bertindak dengan penuh pertimbangan sosial.

Aspek kemandirian harus pula dikedepankan. Menurut Pramoedya Ananta Toer, peserta didik harus dibekali dengan kemampuan produktif. Kemampuan produktif di sini dalam artian bagaimana peserta didik tersebut ketika kembali ke masyarakat nanti dapat memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya tanpa harus bergantung pada pihak lain atau harus menjadi pegawai di instansi-instansi pemerintah. Ini penting agar ketika menghadapi dialektika (pergulatan) hidup tidak mudah dibelokkan oleh kepentingan sesaat yang hanya membawa kemudaratan.

lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah dan perguruan tinggi, ternyata hanya mampu mencetak manusia-manusia tua, bukan manusia-manusia dewasa

Penulis: Sesepuh Cafe Lib, Alumni Program Studi Hubungan Internasional Universitas Hasanudin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: