PENDIDIK CERDAS DAN MENCERDASKAN


PENDIDIKAN ibarat sebuah okestra, dimana masing-masing siswa memainkan dan menghasilkan beragan bunyi atau suara yang berbeda-beda sehingga membentuk sebuah aransemen indah. Pendidikan yang gagal adalah pendidikan yang hanya sebagai paduan suara, artinya murid sekedar meniru guru sehingga pelajaran terasa monoton dan menbosankan. Model ‘meniru’ ini memang bukian sebuah kesalahan yang tak termaafkan jika didasari kearifan local dan kewaskiataan yang bersumber pada tradisi yang baik.

Pendidikan hakekatnya adalah menumbuhkan kearifan hidup melalui proses pembelajaran tentang kehidupan. Pendidikan dituntut untuk dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif sehingga memungkinkan siswa mengembangkan peran dalam lingkungan social yang selalu berubah. Sementara pendidikan yang hanya sekedar memperkaya ilmu pengetahuan semata-mata akan melahirkan manusia peniru yang gagap dalam lingkungannya.

Fungsi penting pendidikan adalah sebagai media pembelajaran tentang kehidupan manusia dalam beragam fungsi (baik fungsi sosial, ekonomi maupun politik) dan kebutuhan (baik material maupun spiritual). Pendidikan bukan hanya transfer of  knowledge dan transfer of value, karena pendidikan semacam ini hanya membuat sejarah berhenti dan kebudayaan menjadi statis. Pendidikan semacam ini hanya akan menciptakan perulangan dan hanya menjadi sebatas pemindahan teori ilmu pengetahuan dan nilai semata-mata.

Ketika membicarakan pendidikan dan pebelajaran bagi siswa sering tidak ketinggalan dibahas masalah kecerdasan manusia. Kecerdasan/intelegensi tidak dapat diamati secara langsung melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Ada perbedaan mendasar antara intelegensi dan IQ. Dalam buku ini A. Martuti menjelaskan bahwa kecerdasan/intelegensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional, sementara IQ atau intellegence Quotient adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Jadi, IQ hanya memberikan sebagian informasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Banyak orang menilai bahwa ternyata sering tidak ada korelasi antara tingginya tingkat kecerdasan rasional dengan tingkat kesuksesan dan daya tahan hidup seseorang. Di samping kecerdasan rasional terdapat kecerdasan lain, yaitu kecerdasan emosional (Emotional Intelligence). Istilah ini terkenal sejak Daniel Goleman menerbitkan bukunya, Emotional Intelligence (1995). EI memberi kita kesadaran akan perasaan sendiri dan perasaan orang lain. EI jg mengajarkan dan menanamkan rasa empati, cinta, motovasi, dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat.

Pikiran emosional bisa muncul karena dipicu oleh pikiran rasional. Ini terjadi, misalnya, dalam tindakan penyelamatan diri saat darurat, timbulnya rasa cinta, rasa benci dan sebagainya. Selain kecerdasan rasional dan kecerdasan emosional, ada lagi macam kecerdasan lain, yaitu kecerdasan spiritual, yang merupakan kecerdasan tertinggi yang bisa diraih oleh manusia. Kecerdasan emosional memang bisa mendatangkan rasa bahagia dan tenang, tetapi hanya sementara. Seseorang yang sukses berkarier, dipromosikan, dan naik pangkat, sangat mungkin merasa bahagia dan senang. Tetapi, dalam jangka panjang, apakah posisi tersebut masih mampu mendatangkan kebahagiaan? Dalam uraian Zohar dan Marshall, kecerdasan spiritual adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun, yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan.

Kecerdasan yang lain lagi adalah kecerdasan jamak atau Multiple Intelligence (MI) yang sering disebut ketika membicarakan pendidikan untuk anak. Mengenal dan mengajarkan kecerdasan  jamak sangatlah penting untuk mengembangkan potensi anak. Hal ini harus dimulai sejak usia dini. Diperlukan pendekatan tersendiri dan pengamatan yang cukup cermat agar dapat mengetahui kecerdasan mana yang lebih dominan pada seorang anak. Setelah itu, kita tinggal mengajarkan dan mengembangkannya. Teori kecerdasan jamak atau Multiple Intelligence ini telah mendobrak pemahaman tentang kemampuan manusia, yaitu Intelligence Quotient (IQ).

Menurut Howard Gadner, ada delapan macam kecerdasan yang dimiliki oleh manusia. Pertama, kecerdasan linguistik-verbal (linguistic-verbal), yang berkenaan dengan kemampuan seseorang dalam berbahasa, yakni mendengar, menulis, berbicara. Kedua, kecerdasan logis-matematis (logical-mathematical), yang berkaitan dengan sikap kritis dalam berpikir. Ketiga, kecerdasan spasial-visual (spatial-visual), yang berkaitan dengan kesukaan pada gambar dan ruang. Keempat, kecerdasan musikal-ritmik (musical-rhytmhic), yang sangat berkaitan erat dengan suara atau bunyi-bunyian teratur. Kelima, kecerdasan badan-kinestetik (bodily-kinesthatic), yang berkaitan dengan kemampuan bergerak, olahraga , performa, dan menari. Keenam, kecerdasan interpersonal, yang sangat berkaitan dengan kehidupan sosial seperti persahabatan dan kerja kelompok. Ketujuh, kecerdasan intrapersonal, dimana orang-orangnya suka bekerja secara perorangan, memiliki tingkat kemandirian yang tinggi, dan percaya diri. Kedelapan, kecerdasan naturalis (naturalist), yang lebih berkaitan dengan alam seperti dunia tumbuhan, hewan, cuaca.

Pada dasarnya semua anak dilahirkan pada keadaan sangat cerdas. Sikap dan pengetahuan serta kemampuan orang tualah yang sangat menentukan berkembang tidaknya kecerdasan anak. Satu hal terpenting dalam mengasuh anak menjadi cerdas adalah jangan membanding-bandingkan anak dengan anak lain. Hal ini akan sangat menghambat perkembangan kecerdasan anak. Setiap anak pasti memiliki kelebihan. Hendaknya kelebihan anak ini diberikan perhatian dan jangan terfokus pada kelemahannya.

Jika kita mampu mempelajari dan menciptakan suatu kondisi ideal dan sikap positif dalam belajar berarti satu langkah untuk mengasah kemampuan dan kecerdasan sudah dimulai. Belajar adalah kegiatan yang berlangsung seumur hidup (long life education). Penciptaan suasana atau lingkungan belajar yang menyenangkan perlu dilakukan agar diperoleh hasil yang efektif. Untuk mencapai suasana belajar yang menyenangkan dan menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi semua siswa perlu dilakukan pembenahan semua aspek pendukung.

Diantara aspek pendukung tersebut adalah lingkungan fisik belajar yang kondusif, yaitu dengan menciptakan ruang belajar yang tenang, menarik dan lepas. Aspek pendukung lainnya adalah lingkungan emosional dengan jalinan kerjasama atara guru dan siswa yang membentuk hubungan yang aman secara emosional. Artinya guru atau orang tua  dalam mengarahkan siswa anak sebaiknya dengan pendekatan yang positif. Anak bukanlah sebuah wadah kosong yang harus diisi layaknya sebuah botol kosong, tetapi anak adalah sebuah kesatuan hidup yang memiliki jiwa dan kehendak.

Guru mempunyai fungsi strategis dalam menyelenggarakan proses belajar-mengajar sebagai wahana hidup. Materi pelajaran yang berupa teori-teori statis dan mati menjadi pengetahuan yang berjiwa dan hidup. Guru dapat menjadikan siswa seolah-olah bagaimana sebuah nilai bisa lahir dan berfungsi. Diharapkan guru dapat menjadi teman bagi siswa dalam mempelajari hidup.

Cara atau gaya belajar mencakup faktor-faktor fisik, emosional, sosiologis, dan lingkungan. Ada siswa yang baru bisa belajar dengan baik jika cahaya ruangan cukup terang, tetapi mungkin ada siswa yang tak bisa belajar dengan baik dengan kondisi demikian. Ada siswa yang cepat belajar dengan berkelompok, tetapi ada yang ingin belajar sendiri. Ada siswa yang dapat belajar dengan lingkungan yang tertata rapi, tetapi ada pula yang bisa belajar dengan keadaan apa adanya. Ada pula siswa yang dapat belajar dengan nyaman sambil mendengarkan musik, sementara yang lain bisa belajar dengan nyaman dalam keadaan sepi.

Gaya belajar adalah kombinasi dari dua hal, pertama, bagaimana mengolah informasi dan kedua, bagaimana mengatur serta mengolah informasi (dominasi otak). Pengetahuan guru, orang tua atau teman mengenai gaya belajar seseorang akan sangat membantu menciptakan kondisi yang kondusif untuk belajar. Ada tiga cara belajar: visual (belajar dengan cara melihat), audial (dengan cara mendengar), dan kinestetik (belajar dengan cara bergerak dan menyentuh).

Buku ini mengajak kita untuk melihat beberapa hal mengenai cara mendidik anak bagi guru dan orang tua. Bagian pertama buku ini membahas perkembangan kecerdasan, bagian kedua membahas cara mengembangkan kecerdasan dan bagian ketiga membahas sikap positif guru dan orang tua dalam mendidik anak sehingga bakat, kecerdasan, dan kreativitas anak dapat berkembang.

Menjadi pendidik cerdas dan mencerdaskan tidaklah mudah, berikut akan dikemukakan tentang tata cara menjadi pendidik yang cerdas dan mencerdaskan :

1.       Jadilah pendengar yang baik

2.       Menjadi pengarah yang bijak

3.       Berbaik sangka

4.       Memberi hukuman yang mendidik

5.       Tegas tapi sabar

6.       Sebatas kemampuan

7.       Ulet dan bertanggung jawab

8.       Hindari ancaman

9.       Jadilah pengayom, pembimbing dan inspirator

10.   Menjaga kestabilan emosi

11.   Melupakan kesalahan dan jadilah pemaaf

12.   Memberi penghargaan

13.   Menjauhi ejekan dan sindiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: